Jakarta, Nice City
Tidak terasa sudah 2 bulan tinggal di Jakarta pusat. Ditengah gedung2 bertingkat. Memang banyak cerita tentang kejahatan, kemacetan, keanehan dan sebagainya di jakarta yang seolah2 tidak memberikan kesempatan sama sekali kepada para malaikat berwujud manusia untuk menunjukan eksistensinya.
Pernah suatu ketika saya lupa menaruh uang dalam jumlah lumayan di saku baju yang hendak dicuci dan kebetulan saya lupa. Dan karena saya lupa, saya pun tidak mempedulikan sama sekali. Beberapa saat kemudian, tukang cuci sekaligus owner dari rumah kos saya pun mengembalikan uang tersebut. Alhamdulillah.
Selama tinggal di jakarta (dan sekitarnya) pun saya sepertinya juga sedikit sekali bertemu dengan kejahatan. Kecopetan atau kehilangan barang? alhamdulillah belum pernah. Sekali saat ada pengamen yang rada memaksa dengan sedikit berkoar, kami adalah mantan napi. huh!.. who will take care with your impolite way?, lebih banyak lagi pengamen yang melantunkan sholawat dan nyanyian2 yang bisa menyejukkan hati (dan saya pun lebih suka merogoh kocek untuk mereka) dan penumpang lain pun tampaknya tak ambil pusing
yang jelas i love living in jakarta…
6 comments so far
Leave a reply


met ramadhan wa. ramadhan pertama di jakarta nih…
Saya dulu juga parno waktu datang pertama kali ke Jakarta. Sendirian lagi, jauh dari suami. Tapi setelah dijalani, alhamdulillah oke-oke aja tuh. Masih banyak kok orang baik di Jakarta.
Ada saja yang membantu, berbaik hati menunjukkan jalan atau memberikan tempat duduk di angkutan umum.
Satu hal yang membuat saya kurang betah : Jakarta gerah. Polusinya itu lho. Ampyun deh. Yah, siapa suruh datang ke Jakarta yak. Hehe…
Tunggu Aku di Jakarta
kalo Arema melaju ke babak final Super Liga Indonesia hehehehe
sampe sebesar sekarang, aku belom pernah ke Jakarta. Pengin sih liat ibukota kita. Mudah-mudahan ada yang ngongkosi.
Jakarta, seperti hutan, sampean nanti akan banyak nemu ilmu baru.
Semoga sukses…
testing